Willyz widhy tabatabai's Blog

Just another WordPress.com weblog

influent of GCG to Disclosure

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Setiap perusahaan  pada suatu periode akan melaporkan semua kegiatan keuangannya dalam bentuk ikhtisar keuangan atau laporan keuangan. Laporan keuangan tersebut bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai hasil-hasil yang telah dicapai dalam satu periode waktu yang telah berlalu (past performance), serta berfungsi sebagai alat pertanggungjawaban manajemen. Kelemahan mendasar pada perekonomian di Indonesia terutama di tingkat mikro, diakibatkan pengelolaan ekonomi dan sektor usaha yang kurang efisien serta sistem perbankan yang rapuh. Pemerintah melalui  Bapepam telah mengeluarkan beberapa peraturan yang bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan konsistensi dalam pelaksanaan kebijakan ekonomi, serta mendorong terciptanya penerapan pengelolaan dunia usaha yang baik.

Fenomena munculnya Good Corporate Governance mulai hangat karena sering diwacanakan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat, stakeholder, pemerintah maupun manajemen perusahaan itu sendiri akan perlunya suatu sistem yang baik dalam meningkatkan transparansi. Oleh karena itu dewasa ini, untuk menciptakan situasi perekonomian yang baik bagi semua pihak, Good Corporate Governance menjadi berkembang diberbagai perusahaan baik yang sifatnya publik maupun swasta. Di Indonesia sendiri telah berdiri Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) yang menangani mengenai masalah ini. Secara logika,  perusahaan yang baik harus  mempunyai sistem pengendalian yang baik, jika itu dilakukan maka perusahaan akan terkendali dan menghasilkan  output yang baik, maka disinilah perlunya Good Corporate Governance dalam mewujudkan semua itu, namun kenyataannya penerapan Good Corporate Governance dalam perusahaan khususnya di Indonesia masih relatif rendah, maka tidak heran jika perusahaan di Indonesia umumnya belum dapat maksimal secara kualitas.

Pada tahun 1999, kita melihat negara-negara di Asia Timur yang sama-sama terkena krisis mulai mengalami pemulihan, kecuali Indonesia. Harus dipahami bahwa kompetisi antar negara-negara tersebut. Jadi menang atau kalah, menang atau terpuruk, pulih atau tetap terpuruknya perekonomian suatu negara bergantung pada korporat masing-masing. Begitu pula di tahun 2009 ini dampak krisis global memaksa setiap perusahaan disuatu negara untuk memaksimalkan kesehatan perusahaan itu sendiri jika ingin bertahan dan tidak terkena dampak krisis tersebut yang berujung pada kebangkrutan atau pembekuan oleh pemerintah. Maka fenomena  Good Corporate Governance dalam pengendalian suatu perusahaan menjadi standar yang dibakukan pemerintah.

Daniri, (2005) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa Istilah  Good Corporate Governance (GCG) selama sepuluh tahun terakhir ini kian populer. GCG merupakan salah satu kunci sukses perusahaan untuk tumbuh dan menguntungkan dalam jangka panjang, sekaligus memenangkan persaingan bisnis global. Kedua, krisis ekonomi diyakini muncul karena kegagalan penerapan GCG.

Konsultan manajemen McKinsey & Co, melalui penelitian pada tahun yang sama, menemukan bahwa sebagian besar nilai pasar, menemukan bahwa sebagian besar nilai pasar perusahaan-perusahaan Indonesia yang tercatat di pasar modal          (sebelum krisis) ternyata overvalued. Dikemukakan bahwa sekitar 90% nilai pasar perusahaan publik ditentukan oleh Growth expectation dan sisanya 10% baru ditentikan oleh current earning stream. Sebagai pembanding, nilai dari perusahaan publik yang sehat dinegara maju ditentukan dengan komposisi 30% dari growth expectation dan 60% dari current earning stream, yang merupakan kinerja sebenarnya dari korporasi. Jadi sebenarnya terdapat ketidakjujuran dalam permainan dipasar modal yang kemungkinan dilakukan atau diatur oleh pihak yang sangat diuntungkan oleh kondisi tersebut. (Thomas S. Kaihatu, 2006)

Menurut (Daniri, 2005). Tantangan terkini yang dihadapi masih belum dipahami secara luas prinsip-prinsip dan praktek Good Corporate Governance oleh komunitas bisnis dan publik pada umumnya. Komunitas internasional masih menempatkan Indonesia pada urutan bawah rating penerapan GCG sebagaimana dilakukan Standars & Poor, CLSA, Pricewaterhouse Coopers, Moodys Morgan, and Calper’s. Kajian Pricewaterhouse Coopers yang dimuat didalam report on institutional investor Survey (2002). Dalam konteks tumbuhnya kesadaran akan arti penting Corporate Governance ini, organization for economic corporation and development (OECD) telah mengembangkan seperangkat prinsip-prinsip GCG dan dapat diterapkan secara fleksibel sesuai dengan keadaan, budaya dan tradisi masing-masing negara.

Beberapa penelitian yang secara khusus menguji Corporate Governance dengan pengungkapan informasi telah dilakukan oleh Forker (1992), Ho dan Wong (2000), dan Sabeni (2002) dalam Khomsiyah (2003). Pentingnya penelitian mengenai Corporate Governance dan pengungkapan informasi dapat ditinjau dari dua perspektif. Penelitian dilakukan untuk mengetahui penerapan prinsip-prinsip Corporate Governance, mengingat pentingnya peran Corporate Governance dalam struktur pengelolaan bisnis dan ekonomi modern yang ditopang oleh pasar modal dan pasar uang (Witherell, 2000; Oman, 2001 dalam Khomsiyah, 2003), meningkatkan kepercayaan publik pada perusahaan (Brayshaw, 2002 dalam Khomsiyah, 2003).

Penelitian yang dilakukan penulis ini adalah replikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Yunita Heryani Mintara (2008) yang berjudul pengaruh implementasi Corporate Governance terhadap pengungkapan informasi. Implementasi Corporate Governance dan pengungkapan adalah dua subject yang dapat melindungi investor dari asimetri informasi. Variabel yang diujikan dalam penelitian ini terdiri dari pengungkapan informasi untuk dilihat pengaruhnya terhadap implementasi Corporate Governance. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa implementasi Corporate Governance berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pengungkapan informasi suatu perusahaan. Perusahaan dengan indeks Corporate Governance tinggi akan mengungkapkan informasi lebih baik dalam laporan keuangan perusahaan. Maka dari hal tersebut terlihat  perusahaan-perusahaan yang memberikan pengungkapan  yang tinggi dalam laporan keuangan akan menunjukkan bahwa implementasi Corporate Governance pada perusahaan tersebut semakin baik.

Adapun perbedaan dengan penelitian sebelumnya adalah variabel X yang menjelaskan cakupan dari Corporate Governance seperti komite audit, struktur kepemilikan, dewan komisaris, dewan direksi, regulasi, profitabilitas dan ukuran perusahaan diuji pengaruhnya terhadap tingkat pengungkapan informasi. Sedangkan penulis menekankan variabel X pada prinsip-prinsip Good Corporate Governance yaitu transparancy, accountability, responsibility, indenpendency, fairness kemudian variabel Y adalah pengungkapan laporan keuangan diukur  menggunakan elemen pengungkapan laporan keuangan dari BAPEPAM sedangkan variabel Y penelitian terdahulu  adalah  pengungkapan informasi yang diukur dengan menggunakan Indeks pengungkapan, dari analisis  yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif, uji normalitas, uji asumsi klasik dan analisis regresi berganda.

Perbedaan lainnya penulis mengambil populasi dan sampel pada 1 perusahaan yang menerapkan secara langsung penerapan prinsip Good Corporate Governance dalam pengungkapan laporan keuangan. Sedangkan penelitian sebelumnya mengambil populasi dan  sampel pada perusahaan-perusahaan yang masuk dalam 10 peringkat teratas yang dilakukan oleh IICG dari tahun 2002-2006. Pengujian hipotesis penelitian ini memakai rank spearman karena masing-masing variabel X dan variabel Y hanya mempunyai 1 variabel, sedangkan penelitian sebelumnya  menggunakan multi variabel pada masing-masing variabel X dan variabel Y.

Berdasarkan latar belakang di atas penulis mencoba meneliti mengenai penerapan prinsip Good Corporate Governance dengan judul  : Pengaruh Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Terhadap Pengungkapan Laporan Keuangan”.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas mengidentifikasikan masalah dan sekaligus membatasi permasalahan yang akan menjadi pokok dalam skripsi ini, yaitu :

  1. Bagaimana penerapan prinsip Good Corporate Governance PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten  ?
  2. Bagaimana pengungkapan laporan keuangan PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten  ?
  3. Bagaimana pengaruh penerapan prinsip Good Corporate Governance terhadap pengungkapan laporan keuangan PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten  ?

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data dan informasi mengenai Good Corporate Governance terhadap pengungkapan laporan keuangan.

Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah :

  1. Untuk mengetahui penerapan prinsip Good Corporate PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten  .
  2. Untuk mengetahui Pengungkapan Laporan PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten  .
  3. Untuk mengetahui pengaruh penerapan prinsip Good Corporate Governance terhadap pengungkapan laporan PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten  .

1.4 Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini akan diarahkan pada kegunaan praktis dan kegunaan teoritis, yaitu :

1.4.1 Kegunaan Praktis

1.    Bagi penulis

a.  Dapat membandingkan antara teori Good Corporate Governance dan pengungkapan laporan keuangan yang dipelajari dengan praktek yang sesungguhnya diterapkan pada perusahaan

b. Sebagai dasar teori untuk mengembangkan, memperluas, dan menggali lebih dalam teori-teori yang telah dipelajari.

c. Untuk memenuhi salah satu syarat ujian siding guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan.

2.  Bagi Perusahaan

Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat memberikan masukan-masukan yang dapat digunakan untuk bahan pertimbangan terutama masukan-masukan yang dapat digunakan untuk bahan pertimbangan terutama yang menyangkut  Good Corporate Governance terhadap pengungkapan laporan keuangan dalam perusahaan ini sendiri.

3. Bagi pihak Lainnya

Sebagai bahan referensi khususnya untuk mengkaji topik-topik yang berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam skripsi ini.

1.4.2 Kegunaan Teoritis

Agar dapat memberikan sumbangan yang positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan terutama dibidang ilmu Akuntansi yang diterapkan pada perusahaan, khususnya mengenai Good Corporate Governance terhadap pengungkapan laporan keuangan.

1.5 Kerangka Pemikiran dan Hipotesis

Dalam rangka economy recovery, pemerintah Indonesia dan International Monetary Fund (IMF) memperkenalkan dan mengintroduksi konsep Good Corporate Governance (GCG) sebagai tata cara kelola perusahaan yang sehat. GCG itu sendiri memiliki beberapa aspek penting yang harus diperhitungkan oleh kalangan bisnis. Dan aspek-aspek ini diharapkan dapat menjawab semua pertanyaan yang menjadi momok dalam perusahaan. Adanya keseimbangan hubungan antara organ-organ perusahaan di antaranya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Komisaris, dan Direksi. Adanya pemenuhan tanggung jawab perusahaan sebagai entitas bisnis dalam masyarakat kepada seluruh stakeholder.

Adanya hak-hak pemegang saham untuk mendapat informasi yang tepat dan benar pada waktu yang diperlukan mengenai perusahaan. Kemudian hak berperan serta dalam pengambilan keputusan mengenai perkembangan strategis dan perubahan mendasar atas perusahaan serta ikut menikmati keuntungan yang diperoleh perusahaan dalam pertumbuhannya. Adanya perlakuan yang sama terhadap para pemegang saham, terutama pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing melalui keterbukaan informasi yang material dan relevan serta melarang penyampaian informasi untuk pihak sendiri yang bisa menguntungkan orang dalam (insider information for insider trading)

Menurut Iman Sjahputra Tunggal (2001) tentang  Corporate governance adalah sebagai berikut :

Corporate governance adalah hubungan stakeholders yang digunakan untuk menentukan arah dan pengendalian kinerja suatu perusahaan. Bagaimana perusahaan. Bagaimana perusahaan memonitor dan mengendalikan keputusan dan tindakan manajer puncak, yang disebut governance mechanism, mempengaruhi implementasi strategi. Corporate governance yang efektif, yang menyelaraskan kepentingan manajer dengan pemegang saham, dapat menghasilkan keunggulan kompetitif bagi perusahaan”

Prinsip-prinsip atau pedoman pelaksanaan Corporate Governance menunjukkan adanya perlindungan tersebut.  Secara umum   menurut   Thomas S. Kaihatu, (2006) terdapat lima prinsip dasar dari Good Corporate Governance yaitu:

“1. Transparency (keterbukaan informasi)

Yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materiil dan relevan mengenai perusahaan.

2. Accountability (akuntabilitas)

Yaitu kejelasan fungsi, struktur, sistem, dan pertanggungjawaban organ perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif.

3. Responsibility (pertanggungjawaban),

Yaitu kesesuaian (kepatuhan) di dalam pengelolaan perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan perundangan yang berlaku.

4. Independency (kemandirian)

Yaitu suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manajemen yang tidak sesuai dengan peraturan dan perundangan-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.

5. Fairness (kesetaraan dan kewajaran)

Yaitu perlakuan yang adil dan setara di dalam memenuhi hakhak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian serta peraturan perundangan yang berlaku.”

Bagi pihak-pihak diluar manajemen suatu perusahaan, laporan keuangan merupakan jendela informasi yang memungkinkan mereka untuk mengetahui kondisi suatu perusahaan pada suatu masa pelaporan.

Pengertian pengungkapan menurut Evans (2003) dalam Suwardjono (2005:578) adalah

Disclousure means suppliying information in the financial statement, including the statement themselves, the notes to the statement, and the supplementary disclousure associates with the statement. It does not expert to public or private statement mode by managemen of information provided outside the financial statement.”

Informasi yang didapat dari suatu laporan keuangan perusahaan tergantung pada tingkat pengungkapan (Disclosure) dari laporan keuangan yang bersangkutan. Evans (2003) dalam Suwardjono (2005) mengidentifikasi tiga tingkat pengungkapan yaitu : memadai (adequate disclosure), wajar atau etis (fair or ethical disclosure), dan penuh (full disclosure). Tingkat ini mempunyai implikasi terhadap apa yang harus diungkapkan.

Setiap perusahaan pada suatu periode akan melaporkan semua kegiatan keuangannya dalam bentuk ikhtisar keuangan atau laporan keuangan. Menurut Sofyan Syafri Harahap (1999:121) mendefinisikan laporan keuangan sebagai berikut :

“Laporan keuangan adalah merupakan output dari hasil akhir proses akuntansi.  Laporan keuangan inilah yang menjadi bahan informasi bagi para pemakainya sebagai salah satu bahan proses pengambilan keputusan”

Pengungkapan dalam laporan keuangan harus memadai agar                                                                                                                                                                                                                                                                                                        dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan sehingga menghasilkan keputusan yang cermat dan tepat.

Adapun pernyataan ilmiah yang mendukung bahwa Prinsip Good Corporate Governance berpengaruh terhadap pengungkapan laporan keuangan adalah dalam penelitian Khomsiyah, (2003) yaitu terdapat prediksi yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara penerapan Corporate Governance dengan pengungkapan informasi dalam laporan keuangan tahunan perusahaan. Semakin tinggi indeks implementasi Corporate Governance, semakin banyak informasi yang diungkapkan oleh perusahaan dalam laporan tahunan.

Dalam hal ini adalah BAPEPAM sebagai regulator yang mendorong diterapkannya prinsip-prinsip Good Corporate Governance guna meningkatkan perlindungan bagi pihak investor dengan adanya informasi yang diberikan oleh perusahaan. Hal ini didasarkan pada penerapan prinsip responsibilitas mengenai tanggung jawab perusahaan sebagai bagian dari masyarakat kepada stakeholders dan lingkungan. Maka diasumsikan bahwa perusahaan dengan tingkat regulasi tinggi cenderung mengungkapkan informasinya dengan lebih baik demi mematuhi peraturan-peraturan yang berlaku.

Menurut Ivan Yustiavandana dan Indra Surya (2006:70) menyatakan adanya hubungan penerapan prinsip Good Corporate Governance terhadap pengungkapan laporan keuangan sebagaimana pernyataanya sebagai berikut :

“Kelak, penerapan prinsip  Good Corporate Governance tidak hanya berkaitan dengan kepentingan para pemegang saham yang sudah ada dalam suatu perusahaan, melainkan turut meliputi kepentingan para calon investor                                                                                      (future investors). Dengan kata lain, implementasi prinsip Good Corporate Governance akan memerhatikan kepentingan dari para calon investor dengan memberi  akses informasi material yang cukup baik dari suatu perusahaan, sebelum memutuskan untuk berinvestasi di perusahaan tersebut.”

Pernyataan ilmiah lainnya mengambil kesimpulan penelitian Thomas S. Kaihatu (2006), bahwa Good Corporate Governance merupakan sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan guna menciptakan nilai untuk semua stakeholder. Konsep ini menekankan pada dua hal yakni, pertama, pentingnya hak pemegang saham untuk memperoleh informasi dengan benar dan tepat pada waktunya dan, kedua, kewajiban perusahaan untuk melakukan pengungkapan (disclosure) secara akurat, tepat waktu, transparan terhadap semua informasi kinerja perusahaan, kepemilikan, dan stakeholder.

Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, maka penulis merumuskan hipotesis bahwa apabila Prinsip Good Corporate Governance diterapkan dengan baik maka akan berpengaruh terhadap pengungkapan Laporan Keuangan.

Adapun kerangka pemikiran digambarkan sebagai berikut :

Fairness
Independency
Accountability
Tranparancy
Responsibility
Stakeholder and future investors

Gambar 1.1 Skema Kerangka Pemikiran

1.6 Lokasi dan Waktu Penelitian

Adapun lokasi penelitian yang dilakukan oleh penulis dalam penyusunan skripsi ini dilaksanakan pada di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten  yang beralamat di Jalan Asia Afrika No.63 Kota Bandung.  Sedangkan lamanya waktu penelitian yang akan dilakukan adalah pada bulan Januari 2010 sampai dengan selesai.

Maret 5, 2010 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: